Saya sangat tertarik dengan literasi, dari fiksi hingga non fiksi (science). Namun lain hal dalam musik, khususnya dalam menulis lagu, yang akhir - akhir ini saya cukup intens membuat karya. Lagu kedua yang saya tulis ialah "Engkau milikku" , tepatnya tahun 2009 lagu tersebut tercipta. Lagu tersebut sempat saya bawakan secara live sendirian ketika masih kuliah, tepatnya ketika mewakili pengurus BEM dalam acara renungan akhir tahun yang diadakan rekan-rekan HMJ Bahasa Indonesia. Singkat cerita, berawal dari teman saya Tri wibowo yang beberapa hari menyatakan siap jadi vokalis untuk acara tersebut, dan Kami pun sudah beberapa kali latihan. 1 jam sebelum acara dimulai, saya sudah sampai di auditorium (aula) dan bergegas mengisi buku tamu (absensi). Sambil menge-cek SMS di HP, saya mulai coba tanya Tri wibowo teman saya, "Posisi dimana?" "Segera merapat, kita segera perform, Bro!", tanpa lama langsung masuk SMS "Sori Ri, aku masih Di Sine (rumah), tadi mau ke kampus tapi hujan lebat & angin, jadi gak bisa. Maaf yo ! " , langsung kubalas "Lha gimana iki gak ono vokalis e?", beliau dengan entengnya membalas "Coba main gitar & nyanyi sendiri bro" , dan terkahir kubalas "Yowislah, gak popo tak coba". Karena jarak kampus dan rumah Tri terlampau jauh, saya memaklumi nya, dan opsi terkahir harus memberanikan diri bernyanyi sambil memainkan gitar.
Awal tahun 2021, sewaktu mau buka YouTube untuk lihat konser - konser musik tiba - tiba muncul sebuah video tentang produksi musik, yang bisa dikerjakan dengan komputer, dari situ mulai saya ikuti tentang proses produksi musik dari awal hingga akhir. Selang beberapa hari melintas Di fikiran kenapa ya gak dari dulu tahu Dan belajar tentang produksi musik agar bisa membuat musik sendiri, karena mengingat jaman dulu itu sangat terbatas sekali akses untuk rekaman, itu pun harus punya budget besar.
Sambil mempelajari apa itu hak cipta, mechanical right, performing right, saya pun membeli sebuah Audio interface Dan microphone condenser brand "Behringer" kumulai produksi musik dengan segala keterbatasan baik skill maupun alat, gitar pun modal pinjaman.
Setelah musik diproduksi dengan kualitas jauh dari sempurna, karya musik tetap saya rilis di digital platform seperti Spotify, joox, Apple music, dll.
Bagi saya berkarya bukan hanya sekedar berkarya. Namun sebagai bentuk bersyukur atas pemberian Allah berupa ide, inspirasi berupa notasi & lirik. Selain itu, berkarya merupakan sebuah milestone melanjutkan hidup ketika kita sudah berpulang (wafat), karena karya itu akan terus berlanjut dan tetap Ada selama bumi masih berputar. Saya berharap Karya - karya saya akan terus membersamai anak cucu kelak di kemudian hari, memberikan insight, membuka cakrawala, mewarnai konstruk berfikir, untuk lebih bisa mensyukuri segala bentuk nikmat yang Allah berikan, dengan mengindera secara kontemplatif atas apa yang ada dalam hidup ini